
Sampai saat ini penyakit thalasemia belum dapat disembuhkan. Agar
tetap bertahan hidup, penderita thalasemia harus menjalani transfusi
darah setiap bulan. Akibat transfusi yang berulang, zat-zat besi pun
menumpuk di tubuh. Untuk membersihkannya harus dilakukan suntikan
desferal (deferoxamine) selama 20 hari dalam sebulan.
Bisa dibayangkan betapa lelah dan menderitanya mereka, terutama
bagi anak-anak yang bahkan sudah harus ditransfusi darah saat usianya
kurang dari satu tahun. Selain anak menderita secara fisik dan
psikologis, orangtua pun harus mengerahkan daya untukmembiayai
pengobatannya yang tidak bisa dibilang kecil.
Cobaan yang luar biasa itulah yang harus dipikul oleh Rizal Ali
(39), salah satu dari ribuan orangtua penderita thalasemia. Rizal Ali
dan istrinya, Elly (36), memiliki tiga buah hati, yaitu Tasya (11),
Aditya (8), dan Alif (5). Yang sangat memukul Rizal Ali, ketiga buah
hatinya itu semuanya menderita thalasemia mayor. Bisa dibayangkan
berapa besar biaya yang harus ia tanggung agar anak-anaknya tetap
hidup.
"Setiap bulan, setiap anak memerlukan perawatan yang memakan
biaya Rp 1,3 juta. Jadi total saya mengeluarkan dana sekitar Rp 3,5
juta per bulan untuk pengobatan anak-anak saya. Ini berat luar biasa
bagi saya, tetapi bagaimana lagi, ini kewajiban saya, dan saya
dituntut untuk menjaga anak," kata Rizal Ali yang bekerja sebagai
suplier.
Karena keterbatasan dana, ia pun terpaksa membawa anak- anaknya
berobat ke Pusat Thalasemia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM),
Jakarta, untuk melakukan transfusi darah secara bergiliran. "Anak
tidak saya bawa bersamaan, tetapi saya gilir," katanya. Ia membagi
jadwal: minggu ini anak pertama, minggu depan anak kedua, dan
seterusnya, agar ia tidak mengeluarkan uang secara serentak untuk
pengobatan tiga anaknya.
Mendadak pucat
Jika anak Anda masih berusia berbilang bulan dan tiba-tiba
wajahnya pucat, maka Anda harus segera membawanya untuk periksa
darah. Bisa jadi ia mengalami anemia ataupun thalasemia mayor.
Itulah yang harus dihadapi oleh Sri Rahayu (35) di tahun 2004.
Warga Kecamatan Jakasampurna, Bekasi Selatan, itu tiba-tiba menemukan
anak keempatnya, Ismail Affandi (3)-yang pada saat itu masih berusia
tujuh bulan-mendadak pucat. Sri membawa anaknya ke bidan. Setelah
dicek, Affandi ternyata dirujuk ke rumah sakit dan terpaksa dirawat
di rumah sakit hingga lima kali.
Pada suatu hari ia dirujuk ke RSCM. Saat itulah baru ketahuan
kalau Affandi menderita thalasemia mayor. Agar Affandi bertahan
hidup, Sri pun harus membawa Affandi ke Pusat Thalasemia RSCM untuk
transfusi darah setiap bulan.
"Untungnya, saya punya kartu gakin (keluarga miskin). Jadi untuk
transfusi dan suntik desferal bisa gratis," kata Sri. Untuk alat
pompa infus desferal yang harganya 350 dollar AS per pompa, Sri bisa
meminjamnya di Pusat Thalasemia.
Untuk desferal, Sri hanya bisa mendapatkan untuk lima
hari. "Mestinya 10 hari, tetapi saya dapat untuk lima hari. Sulit
sekali bagi keluarga miskin di luar Jakarta untuk dapat obat itu,"
kata Sri.
Idealnya, seorang penderita thalasemia harus melakukan kelasi
atau pembersihan zat-zat besi lima kali seminggu, 20 kali sebulan.
Pemakaian pompa suntiknya setiap malam selama 8-12 jam. Begitu anak
bangun pagi, suntikan/infus desferal dilepas dan ia dapat bebas
beraktivitas, seperti bersekolah.
Kondisi anaknya itu mau tidak mau makin menambah beban keluarga
Sri Rahayu. Meskipun tidak perlu mengeluarkan biaya untuk perawatan
anaknya di RSCM, namun ia tetap harus mengeluarkan biaya transportasi
dari Bekasi ke RSCM. Dalam seminggu ia bisa beberapa kali ke RSCM.
"Ini berat, apalagi suami saya sudah tidak bekerja karena toko
rotinya tutup. Dia biasanya jualan roti keliling," kata Sri yang
anak keduanya sudah meninggal dunia. "Saya tidak tahu anak kedua
saya itu meninggal karena thalasemia atau tidak," ucap Sri.
Kerepotan yang sama juga dialami Aidah (35). Anak pertamanya,
Indra Hidayatullah (14), juga menderita thalasemia mayor. "Waktu dia
umur 1,5 bulan sampai enam bulan diare terus, dan mukanya pucat. Umur
sembilan bulan, dia susah makan. Mukanya makin pucat, perutnya makin
buncit," kenang Aidah.
Pada bulan November 1995 ia membawa Indra ke RSCM untuk cek darah
dan sumsum. Rupanya Indra menderita thalasemia mayor. Sejak itulah
Indra harus mengakrabi jarum transfusi darah dan suntikan desferal 15
hari sebulan. Kini dengan bertambahnya usia dan berat badan, sekali
transfusi ia menghabiskan dua kantong darah.
Betapapun repotnya, anak-anak dan orangtua penderita thalasemia
mayor harus bisa hidup bersama thalasemia. Mereka harus "berdamai"
dengan penyakit yang merupakan penyakit bawaan ini.
Genetik
Thalasemia adalah penyakit yang diturunkan atau genetik, suatu
kelainan darah yang terdapat di banyak negara di dunia dan khususnya
pada orang- orang yang berasal dari daerah Laut Tengah, Timur Tengah,
atau Asia. Kelainan darah ini jarang ditemukan pada orang- orang yang
berasal dari Eropa Utara.
Orang dengan thalasemia trait/bawaan adalah orang-orang sehat
tetapi dapat meneruskan thalasemia mayor kepada anak- anak mereka.
Menurut perkiraan, di Indonesia ada ratusan ribu orang pembawa sifat
thalasemia atau disebut juga sebagai thalasemia minor.
Sementara thalasemia mayor adalah suatu penyakit darah serius
yang bermula sejak awal kanak-kanak. Anak-anak yang memiliki
thalasemia mayor tidak dapat membentuk haemoglobin yang cukup dalam
darah mereka, dan memerlukan transfusi darah setiap bulan berikut
perawatan medis. Di Indonesia, saat ini ada sekitar 5.000 penderita
thalasemia mayor yang terdaftar. Belum lagi yang tidak terdaftar atau
tidak dapat mengakses layanan kesehatan.
Pusat Thalasemia di RSCM setiap bulan melayani 1.200 pasien.
Setiap harinya tidak kurang dari 100 pasien menjalani transfusi
darah. Pada ulang tahun ke-22 Perhimpunan Orangtua Penderita
Thalasemia Indonesia dan ulang tahun ke-19 Yayasan Thalasemia
Indonesia-yang dirayakan hari Senin (29/5) lalu -anak-anak
berjejalan melakukan transfusi. Satu tempat tidur bisa dipakai
berdua. Aksi donor darah pun juga dilaksanakan di sana.
Eksistensi Perhimpunan Orangtua Penderita Thalasemia Indonesia
(POPTI) ini sangat membantu para orangtua. Menurut Ketua POPTI
Ruswandi, dengan perhimpunan ini orangtua tidak merasa sendirian,
dapat berbagi informasi, dan saling bertukar pikiran.
"Kami ini satu keluarga, tidak hidup sendiri," kata Ruswandi
yang telah kehilangan putranya, Reza, yang telah meninggal dunia
delapan tahun lalu karena thalasemia mayor. Reza sendiri berjuang
hidup hingga usia 20 tahun.
Melalui Yayasan Thalasemia yang didirikan oleh para orangtua
inilah, mereka membangun Pusat Thalasemia. Ruswandi yang juga Ketua
Harian Yayasan Thalasemia Indonesia menuturkan bagaimana perjuangan
mereka untuk mengupayakan 40 tempat tidur, mencari 500 pompa suntik
desferal yang dapat dipinjam oleh mereka yang menjalani pengobatan di
RSCM, mengupayakan kebutuhan darah yang mencapai 4 juta cc (20.000
kantong darah) per tahun hanya untuk di Pusat Thalasemia RSCM.
"Tidak terbayang bagaimana kalau orangtua harus berjuang sendiri-
sendiri. Orang yang tadinya kaya pun bisa jatuh miskin kalau ada
anaknya yang sakit thalasemia mayor," ucap Ruswandi.
Dimuat di Kompas 2 Juni 2006